KUALI,TAS DAN PENDIDIKAN

(dipinjam dari : http://pabrik-tas.co.id/)

(Proses Pendidikan ?)

Kalau saat ini Bangsa tercinta ini sedang dililit masalah, ya wajar saja. Mengapa ? Bagaimana tidak, saat ini kualitas pendidikan kita sedang dipertanyakan dan tengah diuji habis-habis-an. Lho….koq bisa ? Ya iya lah…. Ini dikarenakan pendidikan dasar di Indonesia masih memerlukan peningkatan kualitas secara signifikan. Bangunan tidak akan kokoh apabila dasarnya (pondasi) dibangun asal-asalan dan kurang memadai.

Hal inilah yang mengakibatkan Kualitas Pendidikan menjadi Kuali, Tas dan Pendidikan. Kuali, ya untuk di dapur tentunya. Tas, untuk membawa seluruh hasil yang didapat dengan  cara bagaimanapun. Pendidikan, ya belakangan, karena kedua hal di sebutkan tadi benar-bernar tidak bisa memberikan pendidikan alias tidak bisa kita tiru.  Apa sudah demikian parahkah pendidikan kita ?

Ya….karena proses belajar itu tidak hanya di bangku sekolah. Tauladan sangat diperlukan bagi generasi penerus yang saat ini cenderung kehilangan publik figur. Tetapi, dimana tauladan itu bisa di ambil ? DPR, PANSUS, Pengadilan, Kejaksaan, atau dimana? Sementara media televisi yang canggih menyiarkan secara langsung lakon-lakon beliau-beliau itu (oknum tentunya).

Lalu, benarkah semua ini berakar dari Pendidikan ?

Entahlah…

UJIAN KENAIKAN TINGKAT

Minggu, tanggal 24 Januari 2010 jam 8 pagi, Aula POLRES BARITO TIMUR dipenuhi oleh para Karateka anggota INKAI se- Kabupaten Barito Timur.

Warming up

Pada hari ini diadakan Ujian kenaikan tingkat bagi karateka sabuk putih hingga sabuk biru dan ujian penurunan kyu bagi karateka pemegang sabuk coklat. Kegiatan ini diikuti 200 lebih karateka dari seluruh Dojo di lingkungan Kabupaten Barito Timur. Dimulai pukul 08.00 WIB, dengan kegiatan pemanasan dan pelenturan dilanjutkan dengan upacara pembukaan.

Upacara Pembukaan

Pelaksanaan Ujian ini dikelompokkan menjadi 2 kelompok  yaitu kelompok pertama dengan peserta terbanyak yaitu untuk pemegang sabuk putih dan sabuk kuning sedangkan pemegang sabuk hijau, biru dan coklat pada kelompok kedua.

Sembilan orang Sensei pemegang sabuk hitam bertindak selaku penguji bertugas hingga jam 15.00 WIB setelah sempat istirahat pada jam 12.00 hingga 13.30 WIB.

Hasil dari ujian ini secara keseluruhan karateka dinyatakan lulus, dan karateka terbaik dipilih dari sabuk putih sehingga berhak memegang sabuk hijau.

Pemasangan Sabuk Hijau Kepada Peserta Terbaik

Acara ditutup pada pukul 15.45 WIB dengan upacara penutupan.

Semoga dengan adanya pembinaan generasi muda melalui Karate ini dapat meningkatkan kekuatan fisik dan mental bangsa Indonesia dan dapat menciptakan generasi yang selalu bersemangat untuk berprestasi dengan disiplin yang tinggi.

AKHIRNYA RANKING SATU

ANANDA YUSUF MUSTAQIM

Begini Nak…..kalaupun Engkau Sayangku tidaklah mendapatkan ranking satu, Abah akan selalu sayang padamu. Tetapi, yang harus Engkau lakukan adalah belajar, belajar dan belajar lagi. Secara terjadwal dan terkoordinasi dengan baik, begitu kata para politikus kita yang sering Abah dengar. Nah…..kalau Engkau sudah lakukan itu, tidak menjadi ranking satu di kelasmu, Abah tetap bangga padamu karena Abah yakin, dengan belajar itu Engkau dapatkan banyak ilmu. Yang pasti, orang bijak berkata, membaca membuka jendela ilmu. Bukalah lebar-lebar jendela ilmu dan masuklah ke rumah  ilmu itu dan lihatlah dengan mata hatimu semua isinya. (Eh….apa  sopan ya masuk lewat jendela ?) Reguk, kuasai semuanya, keserakahan akan ilmu ini tidaklah akan membuatmu menjadi orang yang dibenci. Jangan takut wahai Anakku, Abah selalu mendukungmu.

Walah…..wejangan yang panjang lebar ini memang diperuntukkan khusus bagi Buah Hati-ku yang pertama, dulu ketika Dia berada di kelas 3 SD . Karena, ketika kami pindah ke Kecamatan dari Dusun sana, belahan jiwaku itu menduduki peringkat dua, sedangkan di Dusun selalu berada di puncak.

Wejangan ini sering kuulangi selama bertahun-tahun, terlebih ketika Ananda naik ke kelas 6, ketika frekwensi belajar di rumah malah menurun dikarenakan kebiasaan baru menghinggapinya, ya…main Game. Tidak jarang nada suaraku meninggi ketika Ananda terlalu larut terbuai permainan Game-nya sehingga lupa waktu.

Hari ini, pembagian Rapor di sekolah Ananda. Karena bagi Raport, maka setiap siswa diharuskan membawa nasi bungkus masing-masing anak 2 bungkus untuk acara makan bersama di kelas sebagai perayaan, ya perayaan karena raport dibagikan. Karena Buah Hatiku dua orang di sekolah yang sama, pagi-pagi Bunda menyiapkan 4 bungkus nasi. Koq masing-masing 2 bungkus ? Anak SD apa bisa menghabiskan 2 bungkus nasi ? Jangan salah menafsirkan, 2 bungkus itu, 1 bungkus untuk siswa yang bersangkutan dan bungkus yang satunya lagi untuk dikumpulkan pada wali kelas masing-masing, ya untuk para guru. Jangan salah tafsir lagi, diberikan untuk Bapak dan Ibu Guru itu sebagai pertanda terima kasih para siswa kepada Guru yang senantiasa memberikan bimbingan dan memberikan ilmu kepada para siswa dengan penuh Cinta dan Kasih Sayang.

Pagi ini, seperti biasa aku tetap berangkat ke kantor. Tentunya dengan semangat dan dengan penuh semangat. Sesampainya di kantor-pun dengan semangat melaksanakan tugas-tugas. Di saat sedang istirahat, sempat teringat pada Ananda-ananda yang sedang berada di sekolahnya. Sepertinya tidak akan ada kejutan, paling juga Ananda tetap ranking dua kalaupun mungkin malah turun peringkat mengingat frekwensi belajarnya di rumah menurun.

Singkat cerita, aku pulang kantor, dan Ananda menyambutku dengan senyum penuh kemenangan. Bah…Abah….. “Akhirnya aku ranking satu”.  Akupun senyum senang, senang untuk Ananda. Tetapi, ketika aku melihat raportnya, akupun jadi tersenyum geli. Ternyata, nilai-nilainya turun jika dibandingkan dengan nilai semester sebelumnya. Dalam hati aku berkata,”Ternyata Ananda dapat ranking satu karena saingannya menurun prestasinya melebihi Ananda, bukannya Ananda meningkat prestasinya”. Ini mengingatkan aku akan Film Laskar Pelangi yang diangkat dari Novel karya Andrea Hirata denga judul yang sama, dimana Ical sang tokoh selalu ranking dua karena ada Lintang dan menjadi ranking satu karena Lintang harus meninggalkan sekolah.

Jadwalkan lagi Anakku, disiplinkan lagi belajar di rumah. Apalagi Engaku harus menghadapi UN yang masih dijadikan penentu kelulusanmu nanti, eh sebagai perbandingan prestasimu dengan seluruh siswa se-Indonesia tercinta.

Semangat….semangatlah anakku.

HASIL TES PAGI HARI

Selamat pagi, Pak…..Selamat pagi Bu…..

Kalimat itu sering diucapkan Busu ketika masih sekolah di SD, SMP, dan SMA (berarti S-3 ya..?) yang diucapkan secara serentak bersama-sama teman-teman satu kelas. Ya, masa-masa yang penuh dengan ceria dan cerita. Baik cerita manis, pahit, lucu dan kadang cerita uncategorized.

Ketika sekolah di SD , kalau ditanyakan kepada Busu pelajaran apa yang disukai ? Busu sering menjawab “MATEMATIKA”. Jawaban ini adalah jawaban kontroversial bagi teman-teman Busu, karena mereka menganggap pelajaran Matematika adalah pelajaran yang memusingkan, membosankan, mem….dan mem… yang lainnya. Namun bagi Busu, matematika memiliki sebuah petualangan yang penuh dengan tantangan melebihi outbond. Masa sih..? Ya… karena Busu belum pernah outbond sedang sensasi petualangan yang didapatkan ketika mengerjakan soal-soal apalagi soal yang memiliki tingkat kesulitan lumayan hingga tinggi, dan pada akhirnya Busu dapat menyelesaikannya. Saat itulah, kebahagiaan luar biasa didapatkan melebihi bahagianya saat diberi hadiah permen yang dibagi dua dengan Bejo. (Apa kabar Jo..?)

Sangatlah bertolak belakang dengan cerita Busu di atas, cerita teman Busu yang Guru SMP, memiliki Sertifikat Pendidikan Matematika dan menerima Tunjangan Sertifikasi yang bekerja sebagai tenaga pendidik di sebuah SMP (berarti S-2 ya..?) Bagaimana ceritanya ?

Ketika teman Busu memberikan 5 buah soal hitungan kepada siswa kelas 9 beberapa hari yang lalu, pastinya kelas 9 ini yang akan menghadapi Ujian Nasional pada tanggal 29 Maret 2010 hingga 31 Maret 2010 itu, menurut teman Busu, para siswanya memberikan ‘hadiah’ kekecewaan kepadanya. Bagaimana tidak ? Soal yang diberikan itu adalah soal hitungan yang mulai diajarkan di kelas 4 SD (S-1 lho…) ternyata hasil tes itu sangat jelek. Karena Busu tertarik dengan cerita teman, maka Busu meminta soal-soal itu dan ternyata soalnya seperti ini:

1. 1/2 + 2/3 + 3/4 = …….

2.  1 2/3 + 2 3/5 – 3 1/4  = ……..

3.  (-2) –  1/6  +  4 2/3  –  4/5  = …..

4.  3 4/5  X  2 6/7  = …

5.  12/13  :  9/7  = …

(Maaf, aslinya soal ini dalam bentuk pilihan ganda)

Persis,jelas,  soal-soal ini soal mudah bagi Busu disaat masih SMP kelas 1 (jaman dulu kan belum ada kelas 7). Pantaslah kalau teman Busu merasa kecewa ketika melihat hasil tes 68 siswa itu sebagai berikut :

A. Siswa menjawab benar :

1. Soal nomor 1 : 21 siswa, berarti 30,8 %

2. Soal nomor 2 : 16 siswa, berarti 23,5 %

3. Soal nomor 3 : 18 siswa, berarti 26,4 %

4. Soal nomor 4 : 52  siswa, berarti 76,4 %

5. Soal nomor 5 : 27  siswa, berarti 39,7 %

B. Skor yang didapat siswa (skor 1 setiap soal)

1. Skor 0 : 4 siswa, tidak ada jawaban yang benar.

2. Skor 1 : 21 siswa, hanya satu jawaban benar.

3. Skor 2 : 23 siswa, jawaban benar 2.

4. Skor 3 : 13 siswa, jawaban benar 3.

5. Skor 4 : 7 siswa, jawaban benar 4.

6. Skor 5 : 0 siswa (tidak ada)

Sehingga rata-rata skor adalah : 1,97.

Waduh…. Busu jadi ikut geleng-geleng. Bagaimana tidak ?

Dengan waktu yang sudah sangat dekat dengan UN, ternyata siswa masih sempat “guyoni” gurunya dengan hasil tes pagi hari yang sangat jelek. Siang nanti, terpaksa teman Busu memberikan materi “khusus” yang sebenarnya sudah tidak terdapat dalam kurikulum KTSP SMP. Ya….Busu cuma sarankan kepada temannya, SABAR MAS…., MUDAH-MUDAHAN SISWA-SISWI MAS BISA LULUS UN SEMUA WALAUPUN TERNYATA HARUS IKUT UN ‘ULANGAN’ YANG DISEDIAKAN PADA TAHUN INI.

Sukses….untuk para Guru, khususnya teman Busu di cerita ini.

KEPALA SEKOLAH BURUNG

Ketika Busu sedang berburu ke perkebunan karet, secara tidak sengaja Busu mendengar pembicaraan tiga ekor burung kecil yaitu Burung Cuit, Burung Ticu dan Burung Tuci. Lalu, karena tertarik dengan obrolan mereka, Busu mencari posisi tersembunyi dan mendengarkan dengan seksama dalam tempo semaksimal mungkin. Begini hasil rekaman pembicaraan itu tanpa sadapan:

Burung Cuit berkata,” Cu….kemaren ketika aku sedang terbang di atas Kantor DEPDIKPORA Kabupaten aku dengar Kepala Dinasnya bilang kalau Kepala Sekolah SMP minimal haruslah memiliki ijazah S-1, aturan ini mutlak dipenuhi selain syarat-syarat yang lainnya juga, tetapi kepala sekolah kita kan belum S-1 ya?”.

“Kamu belum tau ya It, sekolah kita kan beda dengan sekolahnya manusia, sekolah mereka kan di kota sedangkan sekolah kita di hutan. Jadi, peraturan itu tidak berlaku untuk kita,” demikian jelas Ticu.

“Eeeeeeh, seharusnya kalian tau, sebenarnya kita juga akan mengadopsi peraturan dari manusia itu. Kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan kita, dimulai dari mengharuskan setiap guru ‘mengantongi’ ijazah S-1,” Tuci ikut bicara.

“Lha kalau guru-guru yang sudah tua-tua itu gimana ?,” tanya Cuit.

Dengan berapi-api Tuci menjelaskan,” Dana untuk pendidikan kita sekarang sangat besar. Baik guru muda maupun tua yang belum sarjana akan kita berikan beasiswa untuk meraih sarjananya. Kita akan buat program khusus yaitu program perlajuan agar guru-guru itu cepat selesai kuliahnya. Untuk kepala sekolah kita, kan sudah diberikan beasiswa dan saat ini sedang kuliah, sebentar lagi sarjana, S-1″.

“Tapi, berita yang kudengar dari manusia, peraturan mereka akan diubah, Kepala Sekolah nantinya harus S-2 lho untuk SMP dan SMA,” jelas Cuit.

“Itu sih gampang, kalau nanti peraturan itu sudah diberlakukan oleh manusia, kitapun akan memberlakukannya juga,” timpal Tuci lagi.

“Jadi, kepala sekolah kita akan diberi beasiswa lagi ya,” Cuit penasaran.

“Ya iya-lah….masa ya iya-dong ? Kalau tidak diberi beasiswa apa dia mau kuliah pada umur segitu. Biaya kuliah S-2 kan muahal. Saat ini kan dia belum dapat tunjangan Verifikasi yang mirip tunjangan Sertifikasi-nya manusia,” kata Ticu santai.

“Hey teman-teman….ayo lari ayo lari, ada manusia membawa senapan tuh,” teriak Tuci yang sedari tadi cuma diam mendengarkan.

Ketiga Burung itupun segera terbang, kabur entah kemana.

Busu yang dari tadi asyik mendengarkan obrolan burung-burung kecil itu menjadi kecewa. Bukan kecewa karena tidak dapat buruan, tapi kecewa karena tidak dapat rekaman yang banyak dari kabar burung-burung tadi karena mereka sudah kabur entah kemana.

(Kualifikasi Kepala Sekolah di Link ke Tunas Pendidikan.)

Tulisan ini tidak ditujukan pada siapapun dan tidak dimaksudkan menyinggung siapapun, cuma kabar dari burung.

SMA RINTISAN WARGA UGANG SAYU KALIMANTAN TENGAH

Upaya mencerdaskan Bangsa merupakan kewajiban bagi semua elemen, baik elemen yang terkandung di masyarakat maupun  pemerintah. Wajib Belajar 9 tahun yang sudah berjalan bertahun-tahun (berapa tahun ya tepatnya ?) sudah menampakan hasil yang positif. Ya….sampai ke pelosokpun kini anak-anak usia sekolah sudah bisa mengenyam pendidikan ‘yang layak’ berkat BOS yang mampu memberikan pelayanan dengan baik tentunya sesuai dengan Panduan Bos 2009.

Di Ugang Sayu, sebuah desa di Kecamatan Gunung Bintang Awai Kabupaten Barito Selatan Provinsi Kalimantan Tengah, terdapat sebuah Sekolah Menengah Pertama yaitu SMPN 2 Gunung Bintang Awai. Sekolah ini berdiri sebagai sekolah Negeri sejak tahun 1992 dan telah banyak ‘meluluskan’ siswanya. Saat ini, SMPN 2 G.B. Awai (begitu sering disingkat) memiliki 235 siswa. SMP ini satu-satunya sekolah menengah pertama untuk 6 desa di sekitarnya.

Terjadinya perubahan pola fikir masyarakat saat ini, 99% lulusan dari SMP ini melanjutkan ke Sekolah Menengah  Atas. Kebanyakan dari siswa yang melanjutkan pendidikannya ini memilih ke Kabupaten Barito Selatan yaitu ke Kota Buntok baik masuk SMA maupun SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas). Sebagian lagi, memilih untuk melanjutkan ke kota Ampah yang jaraknya tidak terlalu jauh yaitu kurang lebih 21 km. Sebagai pilihan, SMA Negeri 1 Dusun Tengah, SMK Pertanian Dusun Tengah dan Madrasah Aliyah Dusun Tengah. Persentase terbesar sekolah yang dipilih siswa adalah SMA Negeri 1 Dusun Tengah  Ampah  yang sudah diakui segudang prestasinya, dan saat ini sudah banyak siswanya yang Go Blog.

Kembali ke Ugang Sayu, mengingat minat siswa melanjutkan sekolah setelah SMP cukup tinggi, maka masyarakat Ugang Sayu yang didukung penuh oleh Guru-guru SMP N 2 Gunung Bintang Awai pada saat itu, mencetuskan mendirikan Sekolah Menengah Atas di Ugang Sayu dengan harapan siswa-siswa lulusan SMP tidak perlu jauh-jauh lagi melanjutkan pendidikannya.

Kantor

Saat ini, SMA di Ugang Sayu yang masih menginduk pada SMA Negeri 1 Buntok, sudah meluluskan siswanya beberapa angkatan. Memang jumlah siswanya sampai saat ini masih belum bisa dikatakan banyak. Mengapa ? Sekali lagi, pola fikir masyarakat desa saat ini sudah berubah. Masyarakat, dalam hal ini orang tua siswa sudah mampu melihat kualitas sebagai sebuah pertimbangan untuk pendidikan anaknya. SMA di Ugang Sayu dengan fasilitas yang masih belum bisa dikatakan memadai dengan 1 orang guru PNS yaitu Kepala Sekolah dan didukung oleh guru-guru honorer yang jumlahnya juga belum cukup, tidak jarang mengakibatkan Kegiatan Belajar Mengajar menjadi terhambat. Melihat kenyataan inilah, SMA di Ugang Sayu hingga saat ini masih belum menjadi pilihan pertama bagi masyarakat Ugang Sayu dan sekitarnya. Pemerintah memang memberikan perhatian yang cukup besar dengan memberikan bantuan sarana prasarana khususnya bangunan gedung kelas dan gedung perpustakaan. Namun, tambahan guru PNS yang diharapkan dalam beberapa tahun terakhir ini tidak ada.

Ruang Perpustakaan dan Ruang Serba Guna

Sepertinya warga Ugang Sayu masih tetap harus berusaha keras membangun SMA-nya agar dapat menjadikan SMA di Ugang Sayu sebagai pilihan pertama bagi siswa untuk melanjutkan pendidikannya khususnya masyarakat Ugang Sayu dan sekitarnya. Teruskan perjuanganmu, jadilah pendekar pendidikan.

SELAMATAN UNTUK SANG JUARA

Dulu…ketika Busu ikut kejuaraan ataupun perlombaan Bapaknya selalu bilang, ” Bagus sekali kalau Kau nanti jadi Juara, Bapak akan berikan Kau hadiah khusus.” Begitu pula ketika Busu masih sekolah, Bapaknya bilang,” Kalau Kau nanti dapat Juara Satu, Bapak akan belikan Kau hadiah seperti yang Kau minta”. Begitu yang sering Busu dengar pompaan motivasi dari Bapaknya bahkan hingga saat ini kata-kata Beliau  sering terngiang-ngiang ditelinga Busu yang sedikit tertutup uban itu.

Kali ini terjadi sebuah kontradiksi yang dialami oleh Bejo. Bagaimana tidak ? Bejo yang ikut Lombanya Pak Yayat, dapat Juara Satu, dapat hadiah domain dot com, di Ampah yang jauh dari Surabaya, harus memberikan hadiah kepada Pak Sastro yang membawa rekan-rekannya sebagai akibat dari postingan Bejo yang membawa-bawa nama Pak Sastro sehingga pada Pengumuman Pemenang Lomba Pak Yayat, Bejo jadi Pemenang Pertama.

Benar-benar kejadian yang tidak diduga. Pemberian hadiah ini berlangsung dalam suasana yang penuh keakraban dan persaudaraan. Dihiasi pula dengan sharing berbagai hal sebagai bumbu untuk menambah wawasan bersama, khususnya bagi Busu. Busu sang Junior begitu terkesan pada malam ini. Pak Sastro yang telah memotivasi, Bejo yang Juara, dan Mas Bayu yang kreatif dan penuh semangat, kini Busu bisa menjadi temannya,  Busu yang masih sering “gak nyambung” dalam membicarakan masalah Blog dan komputer. Jelas…jelas ini menjadi ‘kebanggaan’ lain bagi Busu yang selamanya akan menjadi Busu.

Selamat….selamat atas terpilihnya nomor peserta 60 sebagai Pemenang Pertama. Kearifan dan kreatifitas Bejo sudah memperlihatkan hasil dan akan terus ditantang waktu untuk selalu berkarya.