KEPALA SEKOLAH BURUNG

Ketika Busu sedang berburu ke perkebunan karet, secara tidak sengaja Busu mendengar pembicaraan tiga ekor burung kecil yaitu Burung Cuit, Burung Ticu dan Burung Tuci. Lalu, karena tertarik dengan obrolan mereka, Busu mencari posisi tersembunyi dan mendengarkan dengan seksama dalam tempo semaksimal mungkin. Begini hasil rekaman pembicaraan itu tanpa sadapan:

Burung Cuit berkata,” Cu….kemaren ketika aku sedang terbang di atas Kantor DEPDIKPORA Kabupaten aku dengar Kepala Dinasnya bilang kalau Kepala Sekolah SMP minimal haruslah memiliki ijazah S-1, aturan ini mutlak dipenuhi selain syarat-syarat yang lainnya juga, tetapi kepala sekolah kita kan belum S-1 ya?”.

“Kamu belum tau ya It, sekolah kita kan beda dengan sekolahnya manusia, sekolah mereka kan di kota sedangkan sekolah kita di hutan. Jadi, peraturan itu tidak berlaku untuk kita,” demikian jelas Ticu.

“Eeeeeeh, seharusnya kalian tau, sebenarnya kita juga akan mengadopsi peraturan dari manusia itu. Kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan kita, dimulai dari mengharuskan setiap guru ‘mengantongi’ ijazah S-1,” Tuci ikut bicara.

“Lha kalau guru-guru yang sudah tua-tua itu gimana ?,” tanya Cuit.

Dengan berapi-api Tuci menjelaskan,” Dana untuk pendidikan kita sekarang sangat besar. Baik guru muda maupun tua yang belum sarjana akan kita berikan beasiswa untuk meraih sarjananya. Kita akan buat program khusus yaitu program perlajuan agar guru-guru itu cepat selesai kuliahnya. Untuk kepala sekolah kita, kan sudah diberikan beasiswa dan saat ini sedang kuliah, sebentar lagi sarjana, S-1″.

“Tapi, berita yang kudengar dari manusia, peraturan mereka akan diubah, Kepala Sekolah nantinya harus S-2 lho untuk SMP dan SMA,” jelas Cuit.

“Itu sih gampang, kalau nanti peraturan itu sudah diberlakukan oleh manusia, kitapun akan memberlakukannya juga,” timpal Tuci lagi.

“Jadi, kepala sekolah kita akan diberi beasiswa lagi ya,” Cuit penasaran.

“Ya iya-lah….masa ya iya-dong ? Kalau tidak diberi beasiswa apa dia mau kuliah pada umur segitu. Biaya kuliah S-2 kan muahal. Saat ini kan dia belum dapat tunjangan Verifikasi yang mirip tunjangan Sertifikasi-nya manusia,” kata Ticu santai.

“Hey teman-teman….ayo lari ayo lari, ada manusia membawa senapan tuh,” teriak Tuci yang sedari tadi cuma diam mendengarkan.

Ketiga Burung itupun segera terbang, kabur entah kemana.

Busu yang dari tadi asyik mendengarkan obrolan burung-burung kecil itu menjadi kecewa. Bukan kecewa karena tidak dapat buruan, tapi kecewa karena tidak dapat rekaman yang banyak dari kabar burung-burung tadi karena mereka sudah kabur entah kemana.

(Kualifikasi Kepala Sekolah di Link ke Tunas Pendidikan.)

Tulisan ini tidak ditujukan pada siapapun dan tidak dimaksudkan menyinggung siapapun, cuma kabar dari burung.

15 Tanggapan

  1. Busu..bisa kenalan nih, untuk belajar bahasa burung
    berati burungnya lari karena busu bawa senapan
    mantab dah, cara postingnya
    @ OK, nanti saya kasih tahu sama Busu, kalo berburu bawa sumpit aja, terima kasih Mas…..ini juga belajar dari Pak Sastro.

  2. hehe… hebat ya burung sekarang udah ikuti perkembangan zaman

    @ Rencananya nanti rahasia burung mau dibongkar, mereka berteman akrab dengan Mbah Gugle, he…he….Salam hangat, sukses selalu.

  3. Dimana yah burungnya 😛 ?
    Dah terbang yah 😀
    Tangkap dong 😀

  4. Selamat malam mingguan
    sukses dan ceria selalu
    Ok

    @ Terima kasih, sukses juga.

  5. Pertanyaan Ciut, tentang guru yang tua2 (sebagian jelang pensiun, yang berarti mungkin saja muridnya dulu merupakan salah satu pengambil kebijakan yang mengharuskan guru seorang sarjana), jika juga diterapkan keharusan guru sarjana (D IV), sama saja penindasan dan penistaan profesi terhadap guru2 tua tersebut.

    Kebijakan guru sarjana tidak berperikemanusiaan jika diterapkan juga pada guru2 tua (atau setidaknya sudah lebih 5 tahun sebagai guru), jika mau juga diterapkan pada guru2 baru atau mereka yang baru menjadi guru.

    Seharusnya pengabdian guru2 tua hingga menjelang pensiun disetarakan dengan kesarjanaan dengan hak yang melekat pada gelar sarjana tersebut sesuai dengan UU GD, tanpa harus bergelar sarjana lagi.

    Salam burung, kabar burung juga ada sumbernya.

    @ terima kasih Pak, terima kasih masukannya. Sukses selalu.

  6. mampir malam just wanna say… hepi wiken…

    met bermalam minggu untuk yang melaksanakannya

  7. Burung yang pintar……😀 Mau jalin sillaturahmi nah mas.. Kunjungi blogku ya🙂

  8. kalo diriku kok mengandalkan insting daripada gelar ya?

  9. kunjungan perdana di rumahmu dengan senyuman dari blue
    salam hangat y

    @ Suatu kehormatan bagi kami sudah berkenan mampir ke gubug kami yang sederhana ini, terima kasih dan salam sukses selalu.

  10. ulasan yang menarik, mas yussa, tapi ide re-edukasi guru bisa juga jadi problem ketika hanya sekadar instan. motifnya hanya sekadar ingin memburu kualifikasi ijazah. soal mutu? hmm … akhirnya dinomorsekiankan.

    @ terimakasih Pak, saya baru belajar nih, semoga tidak bosan mampir dan berikan masukan. salam hangat.

  11. Di desa saya, guru SMP banyak yang cuma lulusan SMA lho, Pak.

    Di desa saya, banyak juga isu PNS berijazah palsu.

    Itu belum soal sogol-menyogoknya.

    @ Kalau ijasahnya SMA, mungkin masih ‘pantes’ tapi kalau ijazah palsu ?

  12. Good Post Pak,… hehehe,.. tampil dengan gaya yang unik…. tetap mengandung info yg bermanfaat,.. salam

    @ baru belajar nulis Pak, Terimakasih berkenan mampir, salam hangat.

  13. Setifkasi tujuan awalanya adalah meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah. Meskipun diberikan beasiswa untuk melaksanakan S1 tetapi kalau tidak ada kemauan dari guru dan kepala sekolah untuk meningkatkan mutu pengajarannya hanya akan menjadi sia-sia.

    @ setuju banget Pak, salam sukses selalu.

  14. Tamatan SMA tidak kala bagusnmya dari Lulusan S-1 LO..???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: