PETAKA DI SEKOLAH BURUNG

Tidak seperti biasanya wajah Bu Katjer hari ini tampak sangat murung, padahal Beliau yang memiliki banyak anak itu selalu riang gembira. Sama dengan Pak Murray, yang biasanya ketika mentari mulai menampakkan diri Beliau sambut dengan nyanyian merdunya yang melengking, namun hari ini nampak murung dan dalam kesedihan yang dalam.

Ada apa gerangan ? Cuit dan Ciut sang burung kembar itu bertanya-tanya.

SEKOLAHKU ROBOH

Ciut yang biasanya ciut nyalinya hari ini memberanikan diri bertanya kepada Bu Katjer membuka pembicaraan mereka,” Ada apa gerangan wahai Ibu bijaksana sehingga nampak sangat murung ?”

“Nasib Nak….nasib Ibu sedang tidak mujur”kata Bu Katjer dengan lemah.

“Saya jadi tidak mengerti Bu,” Cuit ikut bicara.

“Begini Nak, kalian sudah tau kalau Ibu memiliki hampir seratus anak. Dan kalian kan juga tau kalau Ibu dan Pak Murray tidak pernah pilih kasih ataupun menganak emaskan salah satu dari anak-anak itu. Memang Ibu bisa “galak” dengan anak-anak Ibu yang bandel bahkan ketika mereka berbuat kesalahan Ibu akan berikan hukuman kepada mereka. Tetapi, anak Ibu yang berprestasi, toh Ibu berikan penghargaan. Dari sekian anak Ibu, ada yang berbulu tebal, berbulu indah, memiliki suara merdu dan lain-lain dengan karakter mereka masing-masing. Tetapi, bersama-sama dengan Pak Murray selalu memberikan pelajaran “menyanyi” dengan sepenuh hati dan kasih sayang. Jauh di dalalm lubuk hatiku yang paling dalam, kasih sayangku sama untuk mereka semua. Walaupun setelah ini mereka semua akan meninggalkan Ibu dan Pak Murray untuk memenuhi takdir mereka”, jelas Bu Katjer panjang.

“Waduh….Bu…, kami malah semakin tidak mengerti penjelasan Ibu” Ciut dan Cuit serentak.

“Kami merasa terpukul Nak,” kata Pak Murray yang hanya diam dari tadi. ” Dari sekian anak Kami, yang telah kami latih selama tiga tahun “menyanyi” hari ini banyak yang dinyatakan harus ujian ulang bahasa halusnya, ya….tidak lulus faktanya. Dan…ini adalah sejarah baru bagi Sekolah Burung dimana paling banyak anak-anak kami yang harus berjuang lagi agar dapat lulus.” lanjut Pak Murray.

“Ya.. Nak, Ibu merasa ini sebagai pukulan yang berat bagi Ibu, juga bagi Pak Murray. Karenanya Suara merdu kami untuk sementara ini tidak akan terdengar, hanya suara sumbang para Gagak akan memenuhi hutan kita ini,” Bu Katjer dengan sedih.

“Tapi Bu….kami selaku penghuni hutan ini tahu persis kalau semua ini bukanlah kesalahan Bu Katjer yang bijaksana ataupun Pak Murray pemilik suara merdu. Sejak kemaren kan Para Burung sudah menyatakan bahwa harus ada evaluasi terhadap sistem pendidikan kita, Bu. Apalagi sekarang sudah banyak memakan korban, kaca-kaca sekolah kita banyak yang pecah bahkan ada beberapa ekor burung mati bunuh diri karena tidak lulus. Kalau tidak segera dicarikan solusi yang tepat tentunya tahun depanpun akan memakan banyak korban lagi,” Kata Cuit yang memang selalu sok bijaksana.

Entahlah………

===================================================================================

Mentari masih bersinar, dan harapanpun tidak boleh padam . Untunglah cerita ini hanya di Sekolah Burung.

Tulisan terkait :

1. KEPSEK BURUNG

2. SEKOLAH RINTISAN

3. UN TERAKHIR

24 Tanggapan

  1. hmmm
    semoga kedepan
    bisa lebih baik ya sob
    smngattttt😀

  2. lha suruh sekolah menyanyi malah maunya latihan berenang dan sms an terus. Yaaaa ngaplo…nggak lulus.

    Salam hangat dari Plesiran, media untuk mempromosikan pariwisata daerah anda secara gratis. Pengirim artikel akan mendapatkan tali asih berupa buku yang menarik dan bermanfaat jika artikelnya di post di Plesiran.
    Silahkan bergabung di Plesiran dan rasakan sensasinya.

  3. KOk, UN Tahun inin bisa anjlok semua y Bu..???

  4. Kalau lihat di TV ada anak dan ibunya meratap2 karena gagal UN rasanya nggak tega Pak.
    Hati kecil saya tetep nggak setuju UN.

    Di satu sisi pemerintah nggak siap dengan daya tampung sekolah ditingkat berikutnya dan juga nggak siap sediakan lapangan kerja, tapi disisi lain memaksakan standarisasi yg bernama UN

  5. Apakah ini kesedihan itu mas ?

    Sang Pak Murray dan Ibu Katjer pasti bersedih .. usaha mereka sudah gigih.. dan anak2 juga belajar sungguh2..
    namun hasilnya begitu…

    siapa yang bisa kita salahkan … standarisasi UN masih dipertanyakan reabilitas nya😦

    ys:> ya Mbak…..terima kasih sudah berbagi

  6. Salam.. Bgus bnget gaya nulisny

  7. ini pasti yang nulis panglima burung, bisa mengerti bahasa burung, sayangya mendiknas gak ngerti bahasa burung.
    betewe bagus sekali ilustrasinya ( sambil lihat burungku ikut sedih apa enggak….)

  8. ehmmm … sindiran khas ala mas yussa, hehe …. semoga saja bu kajter dan pak murray tidak dicela gara2 banyak siswanya yang ndak lulus.

  9. Bu KAcer seperti ibunya Kurawa, anaknya seratus

  10. wew..itu photo beneran hbs roboh?

  11. bu kaccer yang seri netbook,memang anaknya banyak kok pak

  12. wah keren bapak dah bisa pasang burung terbang … kalah nih saya pak …. burung siapa yg terbang itu pak ??

  13. pak Yusami dah bisa menyindir … nih ye …. heee ….
    wah .. wah … kapan2 saya perlu belajar juga nih pak ..

  14. Burung kembar? yang mana ya pak?
    Lho kok jadi ngamongin burung sih?! Waduh, jd situsnya adul nih.

    ys:> bener Pak Akhta, lg nyoba beralih ke situs-nya Adul tapi gak di blokir, nyamarlah gichu..

  15. terkadang memang program yang bermaksud baik bisa jadi bumerang bagi kita semua, entahLah siapa yg harus bertanggung jwb dgn semua itu

  16. semoga pak murray dan bu ketjer ga sedih lagi ya….

  17. namanya juga ujian, pasti ada yg berhasil dan ada yg gagal….. tapi memang benar harus ada evaluasi di dalam sistem pendidikan di negeri burung…..klw di Indonesia mah……..😀

  18. haluuuu kawan blogger ^_^
    apa kabar…
    mampir iah ke blog saiia, lagi ikutan lomba niihh… jangan lupa tinggal jejak dikotak komentar iah ^^…
    caranya gampang banget tinggal klik :
    http://pelangiituaku.wordpress.com/2010/05/10/seorang-cowok-menjaga-kesehatn-kulit-wajar-nggak-sih/

    trus baca deh artikelnya dan kasih komentarr… =)
    kontribusi temen-temen sangat membantu saya untuk menyampaikan informasi seruuu
    check it out =)

    makasiiihhh ^^

  19. Menterinya burung apa Bang? Elang yang gagah?

  20. ngomongin ttg sistem pendidikan kita yaak… manusia2nya dulu yang perlu dibenahi … pasti sistem akan menajdi baik, jika manusia2nya juga baik n bertanggung jawab, nah,… siapa n bagaimana cara membenahinya?

  21. kasian tuh Om burungnya terbang terus tak pernah hinggap. hehehhe

    ys:> begitulah Om perjuangan Bu Katjer dan Pak Murray. He…he..he…

  22. Jadi gak tega sama para pendidik yang dipaksa dengan target kelulusan murid-muridnya ya ?

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  23. Waduh, itu di foto sekolahnya beneran ambruk parah seperti itu?😮 😦 Duh…

  24. kasihan melihat anak2 yg gak lulus UN,
    terlebih lagi guru dan ortunya.
    Kenapa sih pakai ada standarisasi UN segala yg menghabiskan biaya milyaran?
    kenapa uang itu gak dipakai saja utk membangun sekolah2 yg sudah rusak, atau melengkapi kepentingan utk pendidikan lainnya, seperti komputer atau laboratorium?
    seringnya kebijakan yg dibuat, selalu tdk pernah bijak .atau , utk siapa sebenarnya kebijakan itu dibuat?
    masih tanda tanya BESAR.
    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: