SEBUAH PERJALANAN

PERJALANAN

Tadi siang Cuit nampak murung sekali dan mukanya begitu cemberut dan berkerut-kerut seperti jeruk purut. Tanpa berkata apa-apa dia duduk sendirian di kursi pojok kamarnya. Melihat “penampilan” kakaknya seperti itu, Ciut lalu menghampiri ibunya.

“Bu, dari tadi saya lihat Cuit nampak cemberut dan kelihatan gusar. Saya jadi takut Bu, ini tidak seperti biasanya,” kata Ciut kepada ibunya.

“Ada apa sih sebenarnya ? Apa yang sedang terjadi ?” tanya Ibunya terheran-heran.

“Entahlah Bu, Dia begitu setelah tadi pagi selesai mengaji,” Ciut serius.

“Sudahkah Engkau tanyakan kepada kakakmu ,Sayang ? Apa gerangan yang terjadi ?” tanya Ibu lagi.

“Belum Bu, saya jadi takut untuk bertanya,” jawab Ciut. Memang diberi nama Ciut dikarenakan ia memang penakut, nyalinya selalu ciut.


“Baiklah, mari kita hampiri kakakmu dan kita tanyakan apa sebenarnya yang sedang menimpanya,” Ibu kemudian.
Merekapun bersama-sama menghampiri Cuit yang sedang duduk di pojok kamarnya.
“Assalamu’alaikum,” Ibu dan Ciut bersama-sama.
“Wa ‘alaikum salam Ibu dan Adikku tersayang,” jawab Cuit lemah.
“Ada apa anakku, apa gerangan yang mengganggumu hingga engkau terlihat murung ?” tanya Ibu dengan lemah lembut.
Cuit menarik nafas panjang, kemudian mulai bercerita.
“Begini Bu, tadi pagi ketika Cuit selesai mengaji, Cuit terbang dan hinggap di pohon bakau yang tinggi di pantai. Secara tidak sengaja Cuit mendengar pembicaraan Gagak dan Elang. Mereka bilang aku ini sombong, angkuh, pamer dan sok. Mentang-mentang bisa mengaji, habis shalat subuh mengaji, habis shalat dzuhur mengaji, habis shalat ashar mengaji, habis shalat Isya juga mengaji. Pengen pamer, padahal itu Riya. Begitu kata mereka Bu,” Cuit bercerita dengan sangat sedih.
“Oooooo, itu toh penyebabnya. Kalian mau nggak mendengar sebuah cerita teladan ?” tanya Ibu.
“Mau Bu….!” Cuit dan Ciut serentak.

Begini ceritanya :
Dahulu kala, Luqman Hakim beserta anaknya sedang berangkat ke pasar beserta keledai kesayangannya. Karena keledainya cuma satu, maka keledai itu mereka tuntun. Di jalan mereka mendengar orang-orang berkata,“Dasar manusia bodoh, punya keledai bukannya ditunggangi malah dituntun”. Mendengar perkataan orang seperti itu, anaknya yang sangat berbakti pada ayahnya ini bersedia menuntun keledai dan meminta ayahnya untuk naik ke punggung keledai itu. Di sepanjang jalan, mereka mendengar orang-orang berkata,“Ayah yang tidak sayang kepada anak, masa dia enak-enakan duduk di atas keledai sedang anaknya berjalan menuntunnya.” Mendengar perkataan seperti itu, lalu Luqman menyuruh anaknya untuk naik keledai dan dia menuntunnya. Kemudian mereka berpapasan lagi dengan orang-orang yang berkata,“Anak yang tidak berbakti pada orang tua, masa dia enak-enakan duduk di atas punggung keledai sedang ayahnya disuruhnya berjalan kaki.” Luqman jadi sedih, tiada niatnya ingin membuat anaknya di cemooh sebagai anak yang tidak berbakti. Kemudian Luqman memutuskan untuk bersama-sama anaknya menunggangi keledai itu. Di perjalanan mereka mendengar orang-orang berkata,” Dasar orang yang tidak mempunyai hati, masa keledai sekecil itu mereka tunggangi berdua.” Mendengar omongan orang seperti itu akhirnya mereka berdua turun dan keledai itu mereka gotong bersama. Mereka kembali bertemu dengan orang-orang yang semuanya mentertawakan mereka seraya berkata : “Orang gila, orang gila. Masa keledai naik orang ?”
Begitu ceritanya anak-anakku sayang. Jadi, kalau kita mendengarkan omongan orang, maka apapun perbuatan kita pasti tidak ada yang benar. Terlebih masalah ibadah. Yang penting, karena saat ini adalah bulan Ramadhan, saatnya kita memperbanyak beramal, apalagi saat ini sudah memasuki 10 (sepuluh) hari terakhir Ramadhan. Perbanyak membaca Al-Qur’an itu sangat baik namun harus luruskan niatmu semuanya semata-mata ingin mengharapkan ridha Allah SWT, bukan menginginkan pujian dari manusia, supaya amal ibadahmu tidak sia-sia” Ibu menutup ceritanya.

Ciut dan Cuit mengangguk-angguk. Dalam hati Cuit bersyukur memiliki Ibu yang bijaksana.

Terinspirasi dari :
1. RQC

2. imtaq dan iptek

3. Paper Maya

11 Tanggapan

  1. Ikut hanyut mengikuti perjalanan ini…
    Salam!

  2. Pelajarannya, jangan mudah menilai sesuatu hanya dengan sekali lihat.😀

  3. …..“Belum Bu, saya jadi takut untuk bertanya,” jawab Ciut. Memang diberi nama Ciut dikarenakan ia memang penakut, nyalinya selalu ciut…….
    Saya malah bangga melihat si Ciut, yang selalu mengaji, memang kalau menyimak cerita “perjalanan”, kita harus peraya diri terhadap apa yang kita lakukan,…apalagi melakukan sebuah kebenaran. Orang lain hanya bisa berkomentar, biarkan saja…
    kalau boleh usul siCiut diganti nama supaya tidak ciut, karena sebenarnya tidak ciut, terbukti dia berani melakukan apa yang teman-temannya tidak lakukan

    ys: bener juga Pak, emmmm ganti nama apa ya sebaiknya ?

  4. sebuah perjalanan yang sarat hikmah. sepanjang kita yakin bahwa apa yang kita lakukan benar, agaknya memang ndak ada manfaatnya kalau gampang terpengaruh omongan orang.

    ys : mungkin inilah Pak hikmahnya, luruskan niat dan yakin dalam berbuat kebenaran.

  5. sudah tau kurma itu dijual kenapa harus pakai tulisan JUAL KURMA,”” kaya sponsor di TV, seperti orang melihat tontonan WAYANG (bahasa jawa) “ndelok = kendel alok,ora tombok, seneng keplok-keplok, ora seneng mbengok,

    ys: yap…bener Pak Dalang, wayang harus teruskan lakonnya hingga selesai sesuai tujuannya.

  6. waaaaaaaahhhhh ceritanya bermakna sekali…….emang bnr apa yg kita lakukan belum tentu positif buat orang lain cz mereka hanya melihat dari luarnya namun mereka ga mengerti isi dr niat hati kita……………..

    ys: apa ya niat hati kita ? terima kasih atas kunjungannya

  7. Dari semua perbuatan itu yang paling benar yang mana ya pak? Kok sepertinya semua perkataan orang-orang benar semua, nggak ada yang salah😀

    ys : entahlah Pak, kayaknya tergantung siapa yang sedang berkata dan untuk siapa perkataan itu. Selamat berpuasa dan salam sukses selalu.

  8. thanks ceritanya, selalu ada pembljaran dr sebuah cerita

  9. Bacaan bagus di bulan puasa. Ramadhan memang bulan berbagi.

  10. wow wow… i like it

  11. Assalaamu’alaikum mas Yusami..

    Perjalanan yang penuh hikmah buat kita mengambil iktibar agar selalu menjadikan kehidupan ini penuh makna dan diteladani.

    Semoga di bulan barakah ini, kebaikan yang dikongsikan, mendapat ganjaran yang besar di sisi Allah. Saya suka membaca postingan ini mas. salut. ia mencerahkan hati.

    Salam mesra dari Sarawak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: