TIDAK PERCAYA SAMA UN

Puluhan tahun sudah aku mengenal UN, walau mungkin sebelumnya dia belum menggunakan nama itu tetapi masih menggunakan nama aliasnya. Dan, sudah berkali-kali pula “dia” didandani dengan asesoris yang berbeda baik di tambah maupun dikurangi dandanannya walau tetap jelas mimik UN yang sesungguhnya, yaitu tatapannya yang tidak pernah berbinar.

Tahun ini, UN 2011 sudah memasuki tahap menuju hari- H. Sosialisasi UN 2011 telah dilaksanakan Dinas Pendidikan Kabupaten dua tahap. Ya…dilaksanakan dua kali dan secara bertahap.

Mengingat UN 2011 adalah UN yang diberi dandanan baru, sudah selayaknya sekolah-pun melaksanakan sosialisasi kepada siswa dan orang tua siswa dengan sebelumnya disosialisasikan pada seluruh jajarannya di sekolah yaitu kepada semua atribut sekolah. Hal ini dapat kita contoh dari SMA 2 Pasuruan yang telah melakukannya dengan baik. Kebetulan Mbah google mengantar saya ke SMA 2 Pasuruan ketika saya mencari informasi berkaitan dengan tulisan ini.

Mengapa diperlukan sosialisasi ? Apakah UN 2011 sangat jauh berbeda dengan UN sebelumnya ?
Memang benar, sangatlah berbeda UN 2011 dengan UN sebelumnya karena beberapa asesoris ditanggalkan seperti TPI dan Ujian Nasional Ulang. Asesoris baru yang dikenakannya adalah Nilai Raport semester 1 sampai 5 bagi siswa SMP menduduki posisi 40% dari Nilai Sekolah dan Nilai Sekolah menduduki 40% pula pada posisi di sebelah Nilai Ujian Nasional yang menduduki porsi 60 %. Hal ini menunjukkan “itikad” baik pemerintah untuk melibatkan nilai “perjuangan panjang” siswa dalam penentuan kelulusan sehingga tidak dimonopoli UN belaka.
Namun, adakah “rasa saling percaya” terhadap UN ?
Sepertinya UN yang dijadikan sarana untuk melihat hasil kemajuan pendidikan di Indonesia masih penuh dengan “rasa curiga” dan penuh pula dengan trik-trik yang selalu berkembang sesuai kemampuan dan kemajuan teknologi walaupun berbanding terbalik dengan “akhlak”.
Bagaimana tidak ? Pada UN sebelumnya, anak-anak dalam satu ruangan menghadapi soal berbeda dan dirancang khusus pembagian soal dengan 2 paket yang berbeda. Tahun ini dalam satu ruangan yang di isi maksimal 20 siswa akan dibagikan 5 paket soal yang berbeda, dengn demikian dalam satu ruangan ada 4 orang siswa dengan soal yang sama. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kecurangan dari siswa dalam hal ini kegiatan “menyontek” Belum lagi jurus-jurus lain yang diterapkan pemerintah seperti dijelaskan Pak Menteri untuk menjaga kemurnian UN. Padahal, di ruang ujian sudah ada Pengawas Ujian yang ditugaskan yaitu 2 orang pengawas di tiap ruangan.

Jelaslah bahwa kita sudah sejak lama tidak saling percaya untuk memberikan penilaian dalam pendidikan di semua jenjang.  Bagaimana kita dapat benar-benar menciptakan generasi yang berkualitas bila tidak ada rasa saling percaya ? Sebenarnya hal ini bermuara pada “hati nurani” semua fihak yang terkait yang benar-benar telah “gersang” .  Seandainya, IMAN bukanlah seorang tokoh tetapi merupakan penyatuan terhadap “hati nurani” tentulah hal seperti ini tidak perlu terjadi.

(Walah, tulisan ini malah jadi melantur…….istirahat dulu deh, kalo udah fokus baru di sambung atau mungkin di edit lagi)

Tulisan terkait:

1. Tips lulus 100%

2. POS UN SD 2011

3. POS UN SMP 2011

4. Sosialisasi UN 2011

10 Tanggapan

  1. Hanya bisa berdoa semoga murid kita sukses UN

  2. UN mungkin itu jalan terbaik kita dalam menentukan kelulusan siswa

  3. hati nurani pun bimbang, membantu atau tidak.. lho berarti bukan nurani ya

  4. Setidaknya dlm UN tahun ini, perjuangan siswa ada artinya. Tapi ya intinya UN tetap menjadi harga mati.

  5. Menurut saya sih, mau gimanapun UN, tetap harus diikuti. Jangan sampe memboikot ato protes, karena yang rugi nanti siswanya sendiri, gak bisa ikut UN.😐

    Jadi, kalo saya sih turuti aja lah apa mau pemerintah.😀

  6. wah,,kalau gini semakin sulit UAN tahun ini pak jauh beda dgn jaman2ku waktu smp dulu semoga siswa smp di Sayu sukses semua pak sambil dibantu kalau bisa,,

  7. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Yusami…

    Lama sekali kita tidak bersapa ya. Alhamdulillah, bisa menghadir diri untuk bertanya khabar dan membaca sesuatu yang menarik dari sana.

    Saya setuju mas, kalau sudah tidak ada kepercayaan dalam menyatukan soalan sehingga harus dibuat perbagai paket soal yang berbeda menunjukkan intigriti semakin menurun.

    Menurut saya, tidak ada kesaksamaan dan keadilan dalam pengurusan penyediaan soalan yang seharusnya disamaratakan untuk setiap siswa. Kenapa demikian halnya. malahan untuk menyedia soalan berbeda juga bukan main susah. Kenapa suka menyusahkan diri dan orang lain.

    Saya melihat terlalu banyak juga kurikulum yang harus dipelajari oleh siswa sehingga pusing buat mereka belajar dan lelah untuk guru mengajar bagi menghabiskan silibus yang lebih berorientasikan peperiksaan. Akhirnya moral dan akhlak terabai. Dunia pendidikan kini lebih mengejar material dari sahsiah. Kesannya pelajar kita hebat dalam pelajaran tetapi nmerudum dalam tingkah sopan.

    Saya suka tulisan yang kritis sebegini. Salut mas dan terus menulis untuk kebijakan bersama.

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

  8. ya sudah yakin ajah dan selalu di sertai dengan do’a ?

  9. Kalau gak ada UN terus apa dong parameter yg objektif untuk menilai kemampuan siswa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: