TUAN RUMAH BERMURAH HATI (Sebuah catatan pertandingan TIMNAS U-22)

TIMNAS…….SANG GARUDA MERAH PUTIH.

Bertempat di stadion utama Riau, didukung oleh ribuan penonton, Garuda Muda dengan “ramah” memberikan satu-satunya GOL kepada TIMNAS Australia sebagai tamu. Mungkin inilah karakter bangsa yang sangat ramah tamah kepada para Turis yang sering diperlihatkan bangsa Indonesia, tanpa terkecuali Tim Garuda Muda U-22 yang di bawah asuhan MR. Aji S yang berhalangan hadir di pinggir lapangan mendampingi anak asuhnya.

Benarkah ini sebuah “kemurahan hati” TIMNAS kita ? Benarkah ini karakter bangsa kita ?

Penilaian pribadi saya sebenarnya menyangkal ini. Bagaimana tidak ? Bang Anas yang selalu tersenyum menghadapi permasalahan dengan KPK, ya… karena bukan masalah dirinya sih…? Itu masalah rekannya dan beliau baru pemberi keterangan apapun yang diperlukan KPK untuk titik terang masalah HAMBALANG, atau masalah apapun……selalu optimis dan tersenyum karena adanya dukungan yang kuat dari kesebelasannya. Inilah sebuah contoh yang harus ditiru TIMNAS U-22, yaitu saling mendukung dan bekerja sama sebagaimana yang telah dicontohkan Bang Anas. Apabila dilakukan dengan benar, kita tidak akan menjadi pecundang tentunya. Jangan meniru Nazarrudin….? Dia memang ahli “berlari” namun karena menggiring bola sendirian, toh akhirnya kalah juga. Strategi hanya mengandalkan Andik yang diberikan acungan jempol oleh David Beckham ketika sempat berhadapan dengannya, tentulah bukan strategi jitu. Bagaimana tidak ? TIMNAS Australia khan di lapangan sebuah kesebelasan. Tidak akan mudah khan..? Seperti yang sudah di contohkan Nazarrudin itu lho…..gagal khan….!

Mungkin ini sebuah evaluasi bagi Bang Aji Santoso, supaya partai selanjutnya, pertandingan selanjutnya, merah putih bisa berkibar dengan gagah dan garuda bisa mengangkasa dengan bangga. Kerjasama dan disiplin pemain sangatlah perlu ditunjukkan. Kemampuan individu pemain kita tidaklah kalah jauh, dan strategi tentunya sangatlah diperlukan.

Saya bukan ahli dibidang ini, namun keinginan melihat Tim Indonesia bermain bagus dan menjadi tim yang disegani di Asia, dan keinginan menyaksikan lagu Indonesia Raya membahana di Final AFC, membuatku tergelitik untuk beropini.

Karakter……mental yang kuat dan kerjasama penuh disiplin harus dimiliki Tim kita.

Semangat…..semangat……semangat……! Kita belum kalah, masih ada pertandingan yang harus dihadapi agar kita lolos kualifikasi ini. Semoga…!

TIMNAS SEPAKBOLA SENIOR BELUM MENANG

 

Malam ini TIMNAS Senior Indonesia kembali berjuang menghadapi TIMNAS Iran yang disiarkan secara langsung oleh SCTV. Tadinya ada keengganannku untuk menonton pertandingan ini karena sudah kuprediksi TIMNAS Indonesia akan kalah karena pada pertandingan melawan Iran di leg pertama Indonesia dihempaskan dengan skor telak 3-0.

Karena permintaan “si-kecil” yang ingin menyaksikan perjuangan idolanya, akhirnya dengan sedikit terpaksa dan menyembunyikan rasa keenggananku itu di hadapannya akupun menyetel SCTV.

Benar dugaanku, tak lama setelah menyetel SCTV, gawang Indonesia yang dikawal Hendro Kartiko jaringnya bergetar untuk pertama kali di menit-menit awal babak pertama.

Pada pertandingan ini, di babak pertama penjaga gawang “tua” kata “si-kecil” anakku (maklum, penjaga gawang kesukaannya adalah Made) harus memungut bola dalam gawangnya sebanyak 3 kali. Sebuah hiburan, tandukan cantik Bepe menghasilkan satu-satunya gol bagi Indonesia.

Berbeda dengan babak pertama, di babak kedua Iran mengendorkan serangannya, namun sebuah kesalahan pemain Indonesia yang menjatuhkan pemain Iran di kotak pinalti membuat wasit meniup pluitnya dan menunjuk titik putih. Kesalahan pemain Indonesia ini harus dibayar dengan perubahan skor menjadi 4-1. Skor ini menjadi permanen hingga pertandingan selesai.

PEMAIN INDONESIA PENDEK ?

Kekalahan Indonesia kali ini menjadikan TIMNAS Indonesia  sebagai TIM yang belum memenangkan pertandingan sekalipun di Grup E. Menurut komentator, faktor fostur tubuh pemain TIMNAS Indonesia yang lebih kecil di bandingkan pemain-pemain TIMNAS Iran sebagai salah satu faktor yang menyebabkan Indonesia belum bisa menang melawan TIMNAS Iran.

Mas WIM, seorang pelatih hebat yang melatih TIMNAS Indonesia ternyata belum bisa merubah sebuah pertandingan bagi TIMNAS Indonesia menjadi catatan sejarah kemajuan persepakbolaan Indonesia.

Ataukah kita harus memilih “pesepakbola-pesepakbola berbakat dengan tinggi minimal 177,38 cm” seperti skuad Barcelona barulah bisa menorehkan prestasi yang di inginkan ? Kalau memang demikian adanya, PSSI harus sejak dini menyiapkan pemain-pemain berbakat menjadi pemain dengan tinggi minimal 177,38 cm sebagaimana rata-rata pesepakbola Barcelona yang terpendek.

 

 

SANG TUTOR PHOTOSHOP

Kemaren, ketika aku sedang jalan-jalan dengan kedua anakku bertemu dengan Kang Zarod, Seorang Polisi Anggota POLSEK DUSUN TENGAH AMPAH yang juga seorang Blogger. Akhir-akhir ini beliau terlihat sangat sibuk dengan tugas-tugas offline sehingga sangat jarang bisa meng-update Blognya.
Padahal, aku sebenarnya menyukai tulisan-tulisan Beliau khususnya karya beliau yang berkaitan dengan Desain menggunakan Photoshop.
Berikut ini adalah salah satu karya beliau :PENDEKAR AMPAH
Baca lebih lanjut

KUALI,TAS DAN PENDIDIKAN

(dipinjam dari : http://pabrik-tas.co.id/)

(Proses Pendidikan ?)

Kalau saat ini Bangsa tercinta ini sedang dililit masalah, ya wajar saja. Mengapa ? Bagaimana tidak, saat ini kualitas pendidikan kita sedang dipertanyakan dan tengah diuji habis-habis-an. Lho….koq bisa ? Ya iya lah…. Ini dikarenakan pendidikan dasar di Indonesia masih memerlukan peningkatan kualitas secara signifikan. Bangunan tidak akan kokoh apabila dasarnya (pondasi) dibangun asal-asalan dan kurang memadai.

Hal inilah yang mengakibatkan Kualitas Pendidikan menjadi Kuali, Tas dan Pendidikan. Kuali, ya untuk di dapur tentunya. Tas, untuk membawa seluruh hasil yang didapat dengan  cara bagaimanapun. Pendidikan, ya belakangan, karena kedua hal di sebutkan tadi benar-bernar tidak bisa memberikan pendidikan alias tidak bisa kita tiru.  Apa sudah demikian parahkah pendidikan kita ?

Ya….karena proses belajar itu tidak hanya di bangku sekolah. Tauladan sangat diperlukan bagi generasi penerus yang saat ini cenderung kehilangan publik figur. Tetapi, dimana tauladan itu bisa di ambil ? DPR, PANSUS, Pengadilan, Kejaksaan, atau dimana? Sementara media televisi yang canggih menyiarkan secara langsung lakon-lakon beliau-beliau itu (oknum tentunya).

Lalu, benarkah semua ini berakar dari Pendidikan ?

Entahlah…

SELAMATAN UNTUK SANG JUARA

Dulu…ketika Busu ikut kejuaraan ataupun perlombaan Bapaknya selalu bilang, ” Bagus sekali kalau Kau nanti jadi Juara, Bapak akan berikan Kau hadiah khusus.” Begitu pula ketika Busu masih sekolah, Bapaknya bilang,” Kalau Kau nanti dapat Juara Satu, Bapak akan belikan Kau hadiah seperti yang Kau minta”. Begitu yang sering Busu dengar pompaan motivasi dari Bapaknya bahkan hingga saat ini kata-kata Beliau  sering terngiang-ngiang ditelinga Busu yang sedikit tertutup uban itu.

Kali ini terjadi sebuah kontradiksi yang dialami oleh Bejo. Bagaimana tidak ? Bejo yang ikut Lombanya Pak Yayat, dapat Juara Satu, dapat hadiah domain dot com, di Ampah yang jauh dari Surabaya, harus memberikan hadiah kepada Pak Sastro yang membawa rekan-rekannya sebagai akibat dari postingan Bejo yang membawa-bawa nama Pak Sastro sehingga pada Pengumuman Pemenang Lomba Pak Yayat, Bejo jadi Pemenang Pertama.

Benar-benar kejadian yang tidak diduga. Pemberian hadiah ini berlangsung dalam suasana yang penuh keakraban dan persaudaraan. Dihiasi pula dengan sharing berbagai hal sebagai bumbu untuk menambah wawasan bersama, khususnya bagi Busu. Busu sang Junior begitu terkesan pada malam ini. Pak Sastro yang telah memotivasi, Bejo yang Juara, dan Mas Bayu yang kreatif dan penuh semangat, kini Busu bisa menjadi temannya,  Busu yang masih sering “gak nyambung” dalam membicarakan masalah Blog dan komputer. Jelas…jelas ini menjadi ‘kebanggaan’ lain bagi Busu yang selamanya akan menjadi Busu.

Selamat….selamat atas terpilihnya nomor peserta 60 sebagai Pemenang Pertama. Kearifan dan kreatifitas Bejo sudah memperlihatkan hasil dan akan terus ditantang waktu untuk selalu berkarya.